Hit the gas and there's ain't no brake on this lost highway . . . . .

Sabtu, 05 November 2011

Pergeseran Kurva Penawaran

     Pada umumnya, kurva penawaran menaik dari kiri bawah ke kanan atas yang berarti kurva penawaran memiliki sifat positif antara harga dengan jumlah barang yang ditawarkan. Namun, apabila kurva penawaran telah dipengaruhi oleh faktor – faktor diluar dari faktor harga maka akan terjadi peristiwa bergesernya kurva penawaran. Adapun faktor – faktor bukan harga yang mempengaruhi pergeseran kurva penawaran adalah :
a)      Harga bahan baku
b)      Teknologi
c)      Jumlah penjual
d)     Ramalan harga dimasa depan
e)      Pajak serta subsidi
f)       Kebijakan pemerintah

 

Pada kurva penawaran (a), yang terjadi adalah dimana kurva penawaran bergeser kesebelah kanan. Dimisalkan pada mulanya kurva penawaran adalah S1 kemudian menjadi S2 menggambarkan perubahan penawaran yang menyebabkan jumlah baju yang ditawarkan bertambah dari sebanyak 600 menjadi sebanyak 900 walaupun harga baju tersebut tetap seharga $ 25. Faktor -  faktor yang menyebabkan kurva penawaran baju tersebut bergeser kekanan ialah :
1.      Harga Bahan Baku
Ada kemungkinan suatu kondisi dimana harga bahan baku suatu barang mengalami penurunan. Dalam kasus ini yang mengalami penurunan harga adalah bahan baku baju, yakni harga benang. Ketika harga benang mengalami penurunan, produsen baju akan menambahkan mengurangi biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli bahan baku tersebut. Dengan menjual baju jadi, dengan harga tetap, untung yang diterima produsen baju akan bertambah. Kondisi tersebut akan membuat masyarakat tertarik untuk menjadi produsen – produsen baju jadi dan membuat jumlah baju yang ditawarkan secara agregat bertambah jumlahnya.

2.      Teknologi
Pada masa kini teknologi memang sangat berperan penting  bagi kehidupan, begitupun bagi perekonomian, khususnya bagi produsen. Pesatnya perkembangan teknologi dapat membantu pihak produsen baju untuk bertindak lebih efektif maupun lebih efisien. Adanya mesin – mesin jahit otomatis, mesin pewarna baju otomatis serta mesin – mesin lainnya dapat membuat pekerjaan – pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan oleh tenaga kerja manusia dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, kini hanya membutuhkan waktu yang sedikit untuk memproduksi baju dalam jumlah yang cukup banyak. Dengan demikian, produsen tidak lagi membutuhkan jumlah tenaga kerja manusia yang banyak dan dapat mengurangi biaya gaji . Melihat keuntungan yang ada karena efisien dan efektifnya mesin yang ada, akan membuat masyarakat tertarik untuk menjadi produsen baju dan membuat jumlah penawaran baju di pasar bertambah.

3.      Jumlah Penjual
Banyaknya jumlah penjual, juga akan membuat jumlah penawaran suatu barang dipasar bertambah. Ada suatu kondisi dimana para penjual baju mengalami untung dalam melakukan usahanya. Hal ini dilihat sebagai peluang oleh masyarakat yang ingin meraih untung sama dengan para pedagang sebelumnya. Dengan semakin bertambahnya penjual baju , maka jumlah baju yang ditawarkan secara agregat pun turut semakin meningkat.


4.      Ramalan Harga Dimasa Depan
Ketika masyarakat memperkirakan bahwa dimasa depan harga baju akan mengalami kenaikan, hal ini akan mendorong masyarakat untuk membeli baju lebih banyak pada masa kini. Oleh karena tingginya permintaan terhadap baju, maka produsen pun turut menggenjot jumlah produksi usahanya, sehingga akan membuat jumlah penawaran baju pun turut meningkat.

5.      Pajak dan Subsidi
Besaran tingkat pajak maupun subsidi yang dikenakan pada produsen dapat juga mempengaruhi jumlah penawaran keseluruhan. Ketika produsen baju memperoleh pendapatan dari usahanya, kemudian pendapatan tersebut harus digunakan untuk membayar pajak kepada pemerintah. Jika pajak yang ditetapkan pemerintah tidak cukup besar, maka masih banyak pendapatan yang diterima produsen yang dapat digunakan lagi untuk menggiatkan produksi bajunya, sehingga jumlah penawaran baju bertambah.,
Begitupun dengan subsidi, ketika produsen mendapatkan bahan baku yang dikenakan subsidi oleh pemerintah, maka produsen dapat mengurangi jumlah biayanya dan mendapatkan keuntungan akan hal itu, sehingga dapat dialokasikan untuk meningkatkan jumlah produksi bajunya .

6.      Kebijakan Pemerintah
Pemerintah juga berperan penting terhadap besarnya penawaran dipasar. Sebagai contoh, ketika pemerintah mengambil kebijakan bahwa pemerintah melarang adanya impor berupa baju. Maka produsen baju dalam negeri tidak jadi mengalami masalah, karena dengan tidak adanya baju impor, harga produk baju dalam negeri tidak jadi mengalami kejatuhan. Produsen dalam negeri pun kembali akan memperoleh keuntungan yang dapat membuat masyarakat tergiur untuk berkecimpung dalam usaha baju. Dan ini akan membuat jumlah penawaran baju akan bertambah.




Pada kurva penawaran (b), yang terjadi adalah dimana kurva penawaran bergeser kesebelah kiri. Dimisalkan pada mulanya kurva penawaran adalah S1 kemudian menjadi S2 menggambarkan perubahan penawaran yang menyebabkan jumlah baju yang ditawarkan berkurang dari sebanyak 600 menjadi sebanyak 300 walaupun harga baju tersebut tetap seharga $ 25. Faktor -  faktor yang menyebabkan kurva penawaran baju tersebut bergeser kekiri ialah :
1.      Harga Bahan Baku
Ada kemungkinan suatu kondisi dimana harga bahan baku suatu barang mengalami kenaikan. Dalam kasus ini yang mengalami kenaikan harga adalah bahan baku baju, yakni harga benang. Ketika harga benang mengalami kenaikan, produsen baju akan menambahkan jumlah biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli bahan baku tersebut. Dengan menjual baju jadi, dengan harga tetap, untung yang diterima produsen baju akan berkurang atau bahkan merugi. Kondisi tersebut akan membuat masyarakat tidak tertarik untuk menjadi produsen – produsen baju jadi dan membuat jumlah penawaran baju berkurang

2.      Teknologi
Teknologi memang selalu berkembang dari hari ke hari. Mesin – mesin kian canggih dalam perkembangannya. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan adanya mesin canggih serta berteknologi tinggi, namun kurang efektif serta efisien. Sebaga permisalan, para produsen baju menggunakan mesin dalam mencetak motif gambar baju, kualiatas gambar yang dihasilkan memang benar sangat baik, akan tetapi, dibutuhkan waktu yang sedikit lebih lama ketimbang mesin sejenis tetapi bukan berteknologi terbaru. Hal ini tentunya akan mengganggu produkitivitas produsen baju dan mengurangi penawaran baju.

3.      Jumlah Penjual
Pada suatu ketika, ternyata para penjual baju mengalami kerugian, masayarakat luas melihat bahwa memiliki usaha dalam bentuk menjual baju tidaklah memiliki keuntungan dan tidak berprospek baik, maka hanya sebagian kecil yang memilih menjadi penjual baju sehingga jumlah penjual baju pun berkurang. Adapun penawaran baju pun berkurang karena jumlah penjual baju pun sedikit.

4.      Ramalan Harga Dimasa Depan
Pada saat masyarakat meramalkan bahwa kedepannya harga baju jadi akan mengalami penurunan, maka masyarakat akan menunda pembelian baju pada saat kini dan memilih untuk menunggu pada saat harga telah turun. Dengan adanya perilaku seperti ini produsen baju akan mengurangi jumlah produksinya, karena kurangnya minat konsumen pada baju di masa kini, ini kan mengurangi penawaran baju secara meyeluruh

5.      Pajak dan Subsidi
Ketika produsen baju memperoleh pendapatan dari usahanya, kemudian pendapatan tersebut harus digunakan untuk membayar pajak kepada pemerintah. Jika pajak yang ditetapkan pemerintah cukup besar, maka tidak banyak pendapatan yang diterima produsen yang dapat digunakan lagi untuk menggiatkan produksi bajunya, sehingga jumlah penawaran baju berkurang,
Begitupun dengan subsidi, ketika produsen mendapatkan bahan baku yang tidak dikenakan subsidi oleh pemerintah, maka produsen  tidak mengurangi jumlah biayanya, bahkan produsen baju bisa saja merugi, sehingga tidak dapat meningkatkan jumlah produksi bajunya .

6.      Kebijakan Pemerintah
Pemerintah juga berperan penting terhadap besarnya penawaran dipasar. Sebagai contoh, ketika pemerintah mengambil kebijakan bahwa pemerintah menganjurkan adanya impor berupa baju. Maka produsen baju dalam negeri akan mengalami masalah, karena dengan adanya baju impor, harga produk baju dalam negeri mengalami kejatuhan. Melihat keadaan tersebut, masyarakat tidak tertarik untuk menjadi produsen baju karena besarnya hambatan yang ada, sehingga akan mempengaruhi berkurangnya penawaran baju dalam negeri.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Globalisasi

Globalisasi merupakan sebuah proses dimana seluruh bangsa di dunia saling terikat satu sama lain serta diabaikannya batas serta letak geografis suatu Negara. Saat ini globalisasi menjadi topic pembicaraan, dengan segala manfaat serta kekurangan yang dimilikinya. Pada bidang ekonomi efek dari globalisasi sangatlah besar, maka dari sudut pandang ekonomi , globalisasi dianggap sebagai cara kapitalisme terbaru. Karena dengan adanya pasar bebas yang terjadi saat era globalisasi membuat negara -  negara adikuasa semakin pesat berkembang, sementara negara – negara miskin yang tidak mampu bersaing didalam pasar bebas makin terpuruk .
            Modernitas serta bangkitnya perekonomian dianggap sebagai penyebab munculnya globalisasi. Sejak abad ke-20 terjalinnya perdagangan antar negara – negara di dunia merupakan awal dari era globalisasi. Kemudian dilanjutkan hingga masa kini, ditandai dengan berdirinya perusahaan – perusahaan multinasional yang berkembang pesat diberbagai negara, bahkan banyak perusahaan multinasional yang disebut sebagai icon globalisasi. Sebut saja Mcdonald, British Petroleum serta Exxon merupakan perusahaan yang berkembang pesat di seluruh dunia saat ini.
            Masyarakat diseluruh dunia sendiri terbagi dua kelompok dengan adanya globalisasi ini, ada masyarakat yang mendukung adanya globalisasi, disebut sebagai Masyarakat Pro-globalisasi, dilain sisi terdapat masyarakat yang menolak adanya globalisasi ini, dan disebut sebagai Masyarakat Anti-globalisasi. Masyarakat Pro-globalisasi berpendapat bahwa dengan adanya globalisasi, maka akan sangat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat diseluruh dunia. Dan dilain pihak, Masyarakat Anti-globalisasi menganggap bahwa globalisasi sebagai sumber dari keterpurukan banyak masyarakat di dunia. Adapun pendapat-pendapat kedua kelompok masyarakat dunia tersebut akan diurai setelah ini.
            Masyarakat Pro-globalisasi sangat mendukung globalisasi karena berpendapat bahwa globalisasi menyebabkan:
a.       Meningkatkan kemakmuran masyarakat dalam suatu negara
Dengan terjadinya perdagangan bebas dalam globalisasi, maka masyarakat dapat melakukan perdagangan dengan negara lain serta dapat memenuhi kebutuhannya.
b.      Produksi global dapat ditingkatkan
Masyarakat akan memperoleh keuntungan dari spesialisasi dan perdagangan dalam bentuk pendapatan yang meningkat
c.       Memperoleh lebih banyak modal dan teknologi yang lebih baik
Dengan adanya investor yang masuk dari berbagai negara, maka diharapkan setelahnya akan ada peralihan teknologi serta modal.
d.      Memperluas pasar untuk produk dalam negeri
Perdagangan luar negeri yang lebih bebas memungkinkan setiap negara memperoleh pasar yang jauh lebih luas dari pasar dalam negeri.
           
Sedangkan Masyarakat Anti-globalisasi berpendapat bahwa globalisasi menyebabkan:
a)      Sektor keuangan semakin tidak stabil
Besarnya jumlah investasi yang berasal dariluar negeri membuat ekonomi suatu negara tidak stabil
b)      Memperburuk neraca pembayaran
Kecenderungan meningkatnya jumlah impor saat terjadinya globalisasi membuat kondisi neraca pembayaran suatu negara memburuk
c)      Menghambat pertumbuhan sektor industri
Ketergantungan kepada industri-industri yang dimiliki perusahaan multinasional semakin meningkat membuat pertumbuhan industri dalam negeri terhambat
d)     Memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang
Pendapat – pendapat sebelumnya bila terjadi dalam waktu yang lama akan membuat prospek ekonomi



Kemudian, selain mempengaruhi bidang ekonomi, globalisasi juga mempengaruhi bidang lain, seperti budaya . Kontak melalui media menggantikan kontak fisik sebagai sarana utama komunikasi antar bangsa. Perubahan tersebut menjadikan komunikasi antar bangsa lebih mudah dilakukan, hal ini menyebabkan semakin cepatnya perkembangan globalisasi kebudayaan.
 Ciri berkembangnya globalisasi bidang kebudayaan:
  •  Berkembangnya pertukaran kebudayaan internasional.
  • Penyebaran prinsip multikebudayaan (multiculturalism), dan kemudahan akses suatu individu terhadap kebudayaan lain di luar kebudayaannya.
  • Berkembangnya turisme dan pariwisata.
  • Semakin banyaknya imigrasi dari suatu negara ke negara lain.
  • Berkembangnya mode yang berskala global, seperti pakaian, film dan lain lain.

Kegiatan Ekonomi dalam Suatu Negara

Suatu bagan yang menggambarkan aliran pendapatan serta pengeluaran pelaku – pelaku perekonomian yang terdiri dari Konsumen, Produsen, Pemerintah, Perbankan hingga Pasar Modal disebut Circular Flow.
Didalam perekonomian, banyak dari masyarakat yang  terlibat pada suatu badan usaha tertentu,seperti menjadi tenaga kerja. Setelah beberapa lama, produsen tempat mereka bekerja dapat menghasilkan berbagai macam barang ataupun jasa. Kemudian, sebagai pengganti jerih payah usaha masyarakat yang bekerja, produsen memberikan gaji serta upah untuk pekerjanya. Berarti saat ini, masyarakat sudah memiliki pendapatan. Lalu, digunakan untuk apakah pendapatan yang telah diterima oleh masyarakat ? Pendapatan yang telah diterima oleh masyarakat sebagian besar jumlahnya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhannya dengan membeli dari hasil produksi produsen sebelumnya. Akan tetapi, tidak semua pendapatan yang didapat oleh masyarakat akan dihabiskan untuk dikonsumsi. Masyarakat sebagai warga negara wajib membayar pajak kepada pemerintah, oleh karena itu ada sebagian pendapatan yang akan digunakan masyarakat untuk membayar pajak. Kemudian apabila masih terdapat sisa pendapatan, serta terdapat bunga tabungan yang menarik, masyarakat kembali akan mengeluarkan pendapatannya untuk ditabung di bank.
Kemudian, sejumlah pendapatan masyarakat yang tersimpan di bank, akan disalurkan kembali oleh bank kepada masyarakat yang berniat untuk berinvestasi atau membentuk suatu usaha melalui bantuan kredit dari bank. Uang yang dipinjam masyarakat akan digunakan untuk berinvestasi, seperti membeli saham, atau bahkan menambah pengembangan usaha yang dimilikinya. Masyarakat juga lah yang nantinya akan mengajukan berbagai kebijakan untuk diputuskan oleh pemerintah untuk terciptanya kondisi perekonomian yang kondusif serta memihak kepada masyarakat.
Pemerintah hanya akan bertindak sebagai regulator atau pengatur apabila perekonomian sedang menghadapi kendala. Sebagai contoh, ketika suku bunga tabungan tinggi, maka minat masyarakat terhadap  dunia investasi dan usaha sangat kecil, hal ini akan menyebabkan ketidak seimbangan dalam perekonomian. Untung mengurangi ketidak seimbangan ini, pemerintah berhak menggandeng perusahaan (sector riil) ataupun perbankan (sector moneter) untuk memilih kemanakah pengalokasian subsidi yang tepat. Pemerintah bisa memilih memberikan subsidi tersebut kepada perusahaan supaya dunia usaha dapat berkembang dan menarik minat masyarakat berinvestasi. Dengan demikian, kondisi perekonomian akan kembali berimbang.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa aliran pendapatan serta pengeluaran yang terjadi antar pelaku ekonomi sangatlah saling terkait. Apabila salah satu pelaku perekonomian mengalami masalah, yang terjadi adalah akan terjadi ketidak seimbangan dalam perekonomian.

Penyebab Kelangkaan dan Hal yang Diakomodir oleh Ekonomi

  • Apa yang menyebabkan adanya barang langka dan tidak langka dalam ekonomi?
Ø  Kelangkaan terhadap suatu barang sudahlah sangat sering terjadi didalam kehidupan sehari – hari. Kelangkaan menurut Sadono Soekirno terjadi karena disatu pihak, masyarakat selalu terdapat keinginannya untuk memenuhi semua kebutuhannya yang relatif berubah – ubah dan tidak terbatas , sedangkan sumber daya yang tersedia sangatlah terbatas. Karena tidak semua sumber daya yang tersedia di alam bebas, dapat lansung digunakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Di dunia ini, alam sudah begitu banyak sekali menyediakan sumber daya alam yang bisa saja digunakan manusia untuk memenuhi segala kebutuhannya. Akan tetapi permasalahannya, tidaklah semua sumber daya alam tersebut yang telah disediakan sedemikian rupa oleh alam dapat langsung maunusia ambil dan gunakan. Oleh sebab itu, manusia dituntut melakukan usaha lebih untuk menemukannya, mengambilnya, merubah bentuknya sebelum dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhannya. Barang yang dihasilkan oleh sumber daya yang memerlukan suatu pengorbanan untuk mendapatkannya hingga dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan manusia disebut barang ekonomis. Barang- barang ekonomis inilah yang sering menjadi barang-barang langka dalam perekonomian, dikarenakan banyaknya proses pengorbanan yang tidak mudah dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Contoh : Makanan, Sumber daya yang bisa digunakan untuk bahan baku makanan mugkin sangat banyak yang tersedia di alam, tapi tentu tidak bisa langsung kita ambil, kemudian dikonsumsi. Untuk menjadikan nasi misalnya, harus banyak sekali pengorbanan, seperti pengupasan kulit padi, penyaringan padi oleh petani, kemudian dijual oleh petani, belum lagi nanti proses hingga sampai kepada konsumen dan siap dikonsumsi. Oleh karena ketidak mudahannya ini, maka barang – barang ekonomis penyediannya kerap kali menghadapi kendala, sehingga terjadi kelangkaan.

Namun berbeda lagi dengan barang cuma – cuma, barang cuma – cuma tidak perlu melakukan berbagai usaha untuk menikmatinya, karena alam telah menyediakan sumber daya alam yang dapat langsung dinikmati, tanpa harus merubah bentuk atau melakukan usaha lebih dalam mendapatkannya. Barang- barang ini sangat kecil kemungkinannya untuk mengalami kelangkaan, karena barang – barang seperti ini dapat kita gunakan kapanpun kita perlu dan selalu tersedia di alam ini. Contoh : udara dan sinar matahari.



  • Apa yang diakomodir oleh ekonomi ?
Ø Tiga hal yang diakomodir dalam perekonomian yakni Sumber daya, Kebutuhan serta Pengelolaan.  Sumber daya yang merupakan benda – benda yang tersedia oleh alam maupun diciptakan oleh manusiayang digunakan untuk menciptakan barang dan jasa sangat lah terbatas jumlahnya. Banyak sekali sumber daya yang tersedia di alam namun harus diolah dengan berbagai macam proses untuk dapat digunakan manusia. Untuk itu, ekonomilah yang mengakomodir sumber daya, untuk mencegah terjadinya kelangkaan sumber daya. Begitu juga didalam masalah kebutuhan, manusia selalu memiliki kebutuhan yang tidak terbatas, maka ekonomi mengatur manusia untuk melakukan skala prioritas , sehingga manusia dapat memenuhi kebutuhannya berdasarkan kebutuhan yang paling penting. Ekonomi juga lah yang akan mengatur perilaku pengelolaan pemakaian sumber daya serta pemenuhan kebutuhan manusia, dengan adanya pengelolaan akan terjadi keseimbangan antara pemakaian sumber daya dan jumlah kebutuhan, dikarenakan adanya efisiensi, sehingga manusia akan mencapai kemakmurannya.

Rabu, 28 September 2011

Kondisi Perkoperasian di Indonesia Saat Ini

          Koperasi, mungkin bukanlah suatu hal yang baru di Negara Indonesia ini, akan tetapi seiring berjalannya zaman, peranan koperasi nampaknya tergusur oleh berbagai jenis usaha perekonomian yang pada masa kini makin berkembang. Sebenarnya gagasan berdirinya koperasi sudah ada sejak tahun 1896, berasal dari ide seorang Pamong Praja Patih R.Aria Wiria Atmaja di Purwokerto dengan tujuan awal untuk membantu pegawai – pegawai pemerintahan pada zamannya yang tak jarang terlilit lintah darat atau rentenir. Akan tetapi, pada saat itu Pemerintah Belanda kurang menyetujui adanya gagasan itu, dan hanya mendukung jenis – jenis usaha lainnya seperti Bank Pertolongan, Bank Tabungan serta Bank Pertanian. Pemerintah Belanda sendiri memiliki beberapa alasan mengapa mereka kurang menyetujui pendirian koperasi, yakni :
a)       Belum ada instansi pemerintah ataupun badan non pemerintah yang memberikan penerangan dan penyuluhan tentang koperasi.
b)      Belum ada Undang-Undang yang mengatur kehidupan koperasi.
c)      Pemerintah jajahan sendiri masih ragu-ragu menganjurkan koperasi karena pertimbangan politik, khawatir koperasi itu akan digunakan oleh kaum politik untuk tujuan yang membahayakan pemerintah jajahan itu
      Akan tetapi belum sampai di situ saja getaran nadi kehidupan perkoperasian Indonesia, Begitupun dengan masa pendudukan Jepang, Jepang mendirikan koperasi kumiyai. Awalnya koperasi ini berjalan mulus.  Namun fungsinya berubah drastis dan menjadi alat Jepang untuk mengeruk keuntungan, dan menyengsarakan rakyat Indonesia. Dan barulah setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 12 Juli 1947, pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan Kongres Koperasi yang pertama di Tasikmalaya. Hari itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia. Pada tahun 50-an, tumbuhlah koperasi bagai cendawan di musim penghujan. Maka untuk menampung dan menyalurkan aspirasi murni anggota, di Bandung, 15 hingga 17 Juli 1953 diselenggarakan Kongres Koperasi Indonesia kedua. Di sana dengan tinta emas dan tulus iklas Bung Hatta diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia, itu semua dikarenakan semangat dan jasa beliau yang tak henti-hentinya berjuang, mengembangkan landasan-landasan koperasi yang ideal bagi masa depan. Kemudian, memasuki dasawarsa 60-an, lagi-lagi koperasi menemui batu sandungan. Diselewengkan jadi alat politik, jauh keluar dari prinsip serta norma-norma memperjuangkan perekonomian rakyat. Di dalam era NASAKOM  jumlah koperasi politik melonjak tak terkendali, sekedar memanfaatkan fasilitas Demokasi terpimpin buat golongannya.
                  Dengan bergulirnya tonggak kepemimpinan dari Orde Lama ke Orde Baru, Kebangkitan koperasi Indonesia setapak demi setapak terus bertindak. Diawal dengan pembersihan karak daki warisan orde lama, disusul dengan pembenahan organisasi yang telah porak poranda dan peningkatan sumber daya manusia. Fajar terasa semakin dekat dengan lahirnya UU No. 12/1967. Pertanda koperasi Indonesia diletakan kembali pada  asas insan koperasi di seluruh pelosok tanah air. Semenjak pelita I, Pemerintah dan masyarakat koperasi Indonesia telah menemukan titik tolak pembangunan yang mantap, kokoh serasi dan berkesinambungan. Dari tahap demi tahap pembenahan dan pengembangan selama Pelita I dan Pelita II, pilar-pilar penyangga koperasi Indonesia mulai terpasang dengan seksama. Antara lain, berkembangnya Badan Usaha Unit Desa/Koperasi Unit Desa sebagai wadah perekonomian pedesaan. Dipersiapkan kader-kader koperasi masa depan lewat pendidikan dan latihan yang intensif dan terprogram.
 Kebangkitan koperasi Indonesia, pada dasarnya adalah tahapan didalam mengisi organisasi ini dengan berbagai kegiatan ekonomi dan menjadi potensi akan anggota-anggota masyarakat. Salah satu bukti nyata adalah munculnya koperasi susu sebagai perkembangan langkah-langkah dalam bentangan cakrawala perekonomian Indonesia. Koperasi susu yang secara insentif dikembangkan semenjak awal Pelita III, adalah rintisan dan karya mulia yang dipersembahkan Orde baru kepada bangsa dan Negara. Namun demikian, suksesnya koperasi susu masih harus diikuti dengan menyingsingkan lengan baju sebagaimana ajakan Presiden Soeharto bahwa kita memerlukan perjalanan yang panjang agar koperasi benar-benar menjadi salah satu kekuatan ekonomi nasional yang handal, serta menjadi tulang punggung ekonomi nasional kita. Dalam pada itu, KUD pun menunjukan sosok yang tangguh di sektor pertanian untuk melestarikan Swasembada Beras. Pada sektor perkebunan aktif menangani cengkeh, teh, kopi, kopra, karet, panili serta pala. Pada sektor peternakan selain persusuan juga perunggasan. Sektor industri dan kerajinan telah pula dirambatnya. Listrik masuk desa, juga berkat jasa KUD. Dan kini telah pula dibangun kawasan transmigrasi menguak harapan demi harapan kesejahteraan bersama yang selama ini didambakan. Pembinaan dan pengembangan KUD diarahkan untk menumbuhkan  kemampuan perekonomian masyarakat di pedesaan. Kemudian meningkatkan peranannya yang lebih besar dalam perekonomian nasional yang dilandasi dengan demokrasi ekonomi serta memberikan manfaat yang sebesar-besarnya dalam meningkatkan kegiatan ekonomi dan pendapatan yang adil kepada para anggotannya. Dan kini, KUD Mandiri, wujud prestasi tertinggi insane koperasi mulai berbuah dan siap dinikmati. Sampai akhir Juli 1992 ada 3.088 KUD berhasil meraih kualifikasi Mandiri. Pilar-pilar koperasi seperti Koperasi Asuransi Indonesia, Bank Bukopin, Ikopin dan KJA semakin berkembang. Ditambah semakin mantapnya struktur organisasi koperasi serta keterkaitannya dengan Usaha Swasta dan Negara. Dari sini dapat dilihat bahwa koperasi berperan sangat vital sebagai penyokong kegiatan perekonomian dan pembangunan Negara pada masa jayanya, yakni pada masa Orde Baru.
Sinarnya perlahan meredup, tergerus perkembangan zaman. Padahal, sesungguhnya ia begitu cantik, elok, sekaligus perkasa menghadapi berbagai rintangan. Sayang, ia sudah digiring terlampau jauh dari tempatnya semula. Kini, ia mengaduh dan meronta meminta dikembalikan ke posisi awal. Mungkin begitulah gambaran sederhana tentang koperasi masa kini. Betapa banyak kritikan pedas yang dilontarkan sejumlah pengamat terkait fungsi dan perkembangan koperasi yang sudah melenceng jauh dari tujuan utama. Sang primadona mulai kehilangan jati dirinya.
 Peran koperasi dalam perekonomian nasional semakin tak terdengar gaungnya. Bayangkan saja, koperasi yang identik dengan kalimat soko guru perekonomian nasional nyatanya tak mampu memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan domestik bruto (PDB). Koperasi yang masih aktif pun tidak sedikit yang pada praktiknya melenceng dari tujuan utama, yakni meningkatkan kesejahteraan anggota. Menurut Guru Besar Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin), Prof. Dr. H. RM Ramudi Arifin, SE, MSi, saat ini banyak koperasi yang pada praktiknya beroperasi dengan paradigmaa perusahaan. Mereka sibuk memupuk pendapatan, keuntungan dan Sisa Hasil Usaha (SHU).  Nyatanya berdasarkan hasil penelitian yang ia lakukan selama bertahun-tahun, koperasi yang berhasil memupuk SHU besar, memiliki banyak asset, modal kuat, menjadi perusahaan besar, juga mendapat predikat terbaik, belum tentu mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya.
Sayangnya, selama ini masalah perubahan paradigma tidak pernah menjadi isu sentral. Padahal, orientasi koperasi ke ranah kapitalis seperti yang saat ini bergulir sangat berbahaya. Saat ini saja, koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional hanya tinggal sebatas jargon. Tanamkan paradigma bahwa koperasi besar bukan karena SHU atau asset melainkan kesejahteraan anggota. Perubahan paradigma tersebut harus dilakukan menyeluruh dan terintegrasi sinergis. Eksistensi koperasi jangan sekadar menjadi perwujudan konstitusi. Lebih dari itu, keberadaan koperasi harus dilihat sebagai kebutuhan.
         Melencengnya paradigmaa sebenarnya salah satu dari beragam permasalahan yang mencengkram dunia koperasi dewasa ini. Dalam prakteknya masih  banyak masalah melilit sektor perkoperasian khususnya terkait daya saing yang kian tergerus.
Sumber1 : http://gemaskop.blogspot.com/2011/07/lintas-sejarah-pembangunan-koperasi.html
Sumber2 : http://id.wikipedia.org/wiki/Koperasi