Hit the gas and there's ain't no brake on this lost highway . . . . .

Selasa, 15 Februari 2011

Sistem Perekonomian Indonesia

          Sistem Perekonomian di Indonesia sejak awal berdirinya negara Republik Indonesia mengalami dinamika – dinamika di dalam pelaksanaannya seiring dengan kebutuhan zaman dan politik yang ada. Pada masa – masa kepemimpinan yang berbeda , pelaksanaan sistem perekonomian di Indonesia dapat berbeda oleh karena disetiap masa kemimpinan memiliki pandangan atau point of view mengenai sistem perekonomian mana yang pantas digunakan untuk memecahkan permasalahan ekonomi yang ada pada masanya. Dengan demikian, tulisan dibawah ini menyebutkan dinamika – dinamika yang terjadi pada sistem perekonomian yang pernah diterapkan di Indonesia.

1.       Perkembangan sistem ekonomi sebelum orde baru

Sejak berdirinya negara Republik Indonesia, banyak sudah tokoh-tokoh negara pada saat itu telah merumuskan bentuk perekonomian yang tepat bagi bangsa Indonesia, baik secara individu maupun melalui diskusi kelompok. Sebagai contoh, Bung Hatta sendiri, semasa hidupnya mencetuskan ide, bahwa dasar perekonomian Indonesia yang sesuai dengan cita-cita tolong menolong adalah koperasi ( Moh. Hatta dalam Sri-Edi Swasono, 1985 ), namun bukan berarti semua kegiatan ekonomi harus dilakukan secara koperasi, pemaksaan terhadap bentuk ini justru telah melanggar dasar ekonomi koperasi. Demikian juga dengan tokoh ekonomi Indonesia saat itu, Sumitro Djojohadikusumo, dalam pidatonya di negara Amerika tahun 1949, menegaskan bahwa yang dicita-citakan adalah ekonomi semacam campuran. Namun demikian dalam proses perkembangan berikutnya disepakatilah suatu bentuk ekonomi baru yang dinamakan sebagai Sitem Ekonomi Pancasila yang didalamnya mengandung unsur penting yang disebut Demokrasi Ekonomi.

Terlepas dari sejarah yang akan menceritakan keadaan yang sesungguhnya pernah terjadi di Indonesia, maka menurut UUD'45, sistem perekonomian tercermin dalam pasal-pasal 23, 27, 33, dan 34.

Demokrasi Ekonomi dipilih, karena memiliki ciri-ciri positif yang diantaranya adalah ( Suroso, 1993 ) :
·         Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan
·         Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara
·         Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
·         Sumber-sumber kekayaan dan keuangan negara digunakan dengan permufakatan lembaga -lembaga perwakilan rakyat, serta pengawasan terhadap kebijaksanaannya ada pada lembaga-lembaga perwakilan pula
·         Warga negara memiliki kebebasan dalam memilih pekerjaan yang dikehendaki serta mempunyai hak akan pekerjaan dan penghidupan yang layak
·         Hak milik perorangan diakui dan pemanfaatannya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan masyarakat
·         Potensi, inisiatif dan daya kreasi setiap warga negara dikembangkan sepenuhnya dalam batas-batas yang tidak merugikan kepentingan umum
·         Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara


Dengan demikian di dalam perekonomian Indonesia tidak mengijinkan adanya :
·         Free fíht liberalism yakni adanya kebebasan usaha yang tidak terkendali sehingga memungkinkan terjadinya eksploitasi kaum ekonomi yang lemah, dengan akibat semakin bertambah luasnya jurang pemisah si kaya dan si miskin.
·         Etatisme . yakni keikut sertaan pemerintah yang terlalu dominan sehingga mematikan motifasi dan kreasi dari masyarakat untuk berkembang dan bersaing secara sehat.
·         Monopoli . suatu bentuk pemusatan kekuatan ekonomi pada satu kelompok tertentu, sehingga tidak memberikan pilihan lain pada konsumen untuk tidak mengikuti 'keinginan sang monopoli'.

            Meskipun pada awal perkembangannya perekonomian Indonesia menganut sistem ekonomi Pancasila. Ekonomi Demokrasi, dan 'mungkin campuran', namun bukan berarti sistem perekonomian liberalis dan etatisme tidak pernah terjadi di Indonesia. Awal tahun 1950-an sampai dengan tahun 1957-an merupakan bukti sejarah adanya corak liberalis dalam perekonomian Indonesia. Demikian juga dengan sistem etatisme, pernah juga mewarnai corak perekonomian di tahu 1960-an sampai dengan masa orde baru.

            Keadaan ekonomi Indonesia antara tahun 1950 sampai dengan tahun 1965-an sebenarnya telah diisi dengan beberapa program dan rencana ekonomi pemerintah. Diantara progran-program tersebut adalah :
·         Program Banteng tahun 1950, yang bertujuan membantu pengusaha pribumi
·         Program / Sumitro Plan tahun 1951
·         Rencana Lima Tahun Pertama, tahun 1955 -1960
·         Rencana Delapan Tahun

            Namun demikian kesemua program dan rencana tersebut tidak memberikan hasil yang berarti bagi perekonomian Indonesia. Beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan adalah :
·         Program-program tersebut disusun oleh tokoh-tokoh yang relatif bukan bidangnya, namun oleh tokoh politik, dengan demikian keputusan- keputusan yang dibuat cenderung menitik beratkan pada masalah politik, dan bukannya masalah ekonomi. Hal ini dapat dimengerti mengingat pada masa-masa ini kepentingan politik tampak lebih dominan, seperti mengembalikan negara Indonesia ke negara kesatuan, usaha mengembalikan Irian Barat, menumpas pemberontakan di daerah-daerah, dan masalah politik sejenisnya.
Akibat lanjut dari keadaan di atas, dana negara yang seharusnya dialokasikan untuk kepentingan kegiatan ekonomi, justru dialokasikan untuk kepentingan politik dan perang.

·         Faktor berikutnya adalah, terlalu pendeknya masa kerja setiap cabinet yang dibentuk ( sistem parlementer saat itu ). Tercatat tidak kurang dari 13 kali kabinet berganti saat itu. Akibatnya program-program dan rencana ekonomi yang telah disusun masing-masing kabinet tidak dapat dijalankan dengan tuntas, kalau tidak ingin disebut tidak sempat berjalan.
Disamping itu program dan rencana yang disusun kurang memperhatikan potensi dan aspirasi dari berbagai pihak. Disamping kutusan individu/ pribadi, dan partai lebih dominan dari pada kepentingan pemerintah dan negara.

·         Adanya kecenderungan terpengaruh untuk menggunakan sistem perekonomian yang tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indoneisa ( liberalis, 1950 -1957 ) dan etatisme ( 1958 -1965 )

            Akibat yang ditimbulkan dari sitem etatisme yang pernah 'terjadi' di Indonesia pada periode tersebut dapat dilihat pada bukti-bukti berikut :
·         Semakin rusaknya sarana-sarana produksi dan komunikasi, yang membawa dampak menurunnya nilai eksport kita
·         Hutang luar negeri yang justru dipergunakan untuk proyek 'Mercu Suar'
·         Defisit anggaran negara yang makin besar, dan justru ditutup dengan mencetak uang baru, sehingga inflasi yang tinggi tidak dapat dicegah kembali.
·          Keadaan tersebut masih diperparanh dengan laju pertumbuhan penduduk ( 2,8 % ) yang lebih besar dari laju pertumbuhan ekonomi saat itu, yakni sebesar 2,2 %.

2.      Perkembangan sistem ekonomi Indonesia setelah Orde Baru

Iklim kebangsaan setelah Orde Baru menunjukkan suatu kondisi yang sangat mendukung untuk mulai dilaksanakannya sitem ekonomi yang sesungguhnya diinginkan rakyat Indonesia. Setelah melalui masa-masa penuh tantangan pada periode 1945 sampai dengan 1965, semua tokoh negara yang duduk dalam pemerintahan sebagai wakil rakyat sepakat untuk kembali menempatkan sistem ekonomi kita pada nilai-nilai yang telah tersirat dalam UUD 1945. Dengan demikian sitem demokrasi ekonomi dan sistem ekonomi Pancasila kembali satu-satunya acuan bagi pelaksanaan semua kegiatan ekonomi selanjutnya.

Awal Orde Baru diwarnai dengan masa-masa rehabilitasi, perbaikan, hampir di seluruh sektor kehidupan, tidak terkecuali sektor ekonomi. Rehabilitasi'ini terutama ditujukan untuk :
·         Membersihkan segala aspek kehidupan dari sisa-sisa faham dan sistem perekonomian yang lama ( liberal/kapitalis dan etatisme/komunis ).
·         Menurunkan dan mengendalikan laju inflasi yang saat itu sangat tinggi, yang berakibat terhambatnya proses penyembuhan dan peningkatan kegiatan ekonomi secara umum.
Tercatat bahwa :
·         Tingkat inflasi tahun 1966 sebesar 650 %
·         Tingkat infalsi tahun 1967 sebesar 120 %
·         Tingkat infalsi tahun 1968 sebesar 85 %
·         Tingkat infalsi tahun 1969 sebesar 9,9 %

Dari data di atas, menjadi jelas, mengapa rencana pembangunan lima tahun pertama ( REPELITA I ) baru dimulai pada tahun 1969.



Sumber : Sistem Perekonomian Indonesia, Tulisan Yonaz Firnando, http://yonazfirnando.blogspot.com/2010/06/sistem-perekonomian-indonesia.html, dilihat pada 15 Februari 2011. Pukul 15.00.

Minggu, 13 Februari 2011

Sistem Ekonomi dan Macam - Macamnya

         Definisi sistem ekonomi menurut beberapa pakar ekonomi ialah :
  •  Menurut Dumairy (1966), Sistem ekonomi adalah suatu sistem yang mengatur serta menjalin hubungan ekonomi antar manusia dengan seperangkat kelembagaan dalam suatu tatanan kehidupan, selanjutnya dikatakannya pula bahwa suatu sistem ekonomi tidaklah harus berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan falsafah, pandangan dan pola hidup masyarakat tempatnya berpijak.   Sumber : Sistem Ekonomi Indonesia, tulisan Galih Valentino, http://nstars.ce.ms/t3491-sistem-ekonomi-indonesia , 13 Februari 2011 12.43 WIB
  •  Menurut Sanusi (2000), sistem ekonomi merupakan suatu organisasi yang terdiri dari sejumlah lembaga/pranata (ekonomi, sosial dan ide) yang saling mempengaruhi yang ditujukan ke arah pemecahan masalah pokok setiap perekonomian... produksi, distribusi, konsumsi. Sumber : Sistem Ekonomi Indonesia, tulisan Cairudin, http://cairudin.blogspot.com/2010/12/sistem-ekonomi-indonesia.html , 13 Februari 2011 20.53  WIB
            Sistem ekonomi atau perekonomian pada suatu negara dapat berbeda – beda karena sistem perekonomian identik dengan ideologi , dan politik, baik politik luar negeri dan dalam negeri dari masing – masing negara.  Maka, tidak jarang pada satu negara pernah menggunakan berbagai  sistem ekonomi dalam sejarah negara tersebut. Indonesia sendiri dalam sejarahnya pernah melaksanakan berbagai macam sistem perekonomian, seperti pada masa pemerintahan Orde Lama dibawah kepemimpinan Presiden Soekarno, dengan Demokrasi Terpimpinnya dan arah politik luar negerinya sangat condong kearah blok timur seperti Uni Soviet, membuat Indonesia turut melaksanakan sistem ekonomi Terpusat pada masa itu. Kemudian, pada masa Orde Baru, Indonesia juga melaksanakan sistem ekonmi liberal dan saat kini, Indonesia melaksanakan  sistem ekonomi campuran dari keduanya.
            Adapun macam dari sistem perekonomian di dunia ini ialah :
1.      Sistem Ekonomi Liberal atau Pasar Bebas
Sistem Perekonomian ini adalah sistem ekonomi yang mengaplikasikan teori dari Adam Smith, dimana Adam Smith beranggapan bahwa perekonomian dapat berjalan dengan baik apabila dijalankan oleh masyarakat atau swasta tanpa campu tangan lebih dari pemerintah. Masyarakat bebas menetukan kegiatan perekonomiannya, bahkan bebas menentukan dan memiliki sumber daya ekonominya. Namun,  pemerintah bukan tidak memiliki tugas , akan tetapi pemerintah memiliki tugas untuk tetap mengawasi saja jalan perekonomian ini.
Kelebihan dari sistem ekonomi liberal adalah :
·         Memacu perkembangan perekonomian dengan persainganyang ada
·         Meningkatkan kreativitas masyarakatnya untuk memajukan kegiatan usahanya
·         Masyarakat bebas menentukan dan memiliki sumberdaya ekonominya sehingga dapat maksimal dalam berusaha.
Kelemahannya adalah :
·         Sistem ekonomi ini sangatlah tidak stabil dan fluktuatif, seperti apa yang terjadi pada krisis Indonesia tahun1997 -1998.
·         Terbukanya peluang Monopoli dari pihak yang lebih kuat.
·         Rawan akan terjadinya eksploitasi pada sumber daya ekonomi, terlebih pada pekerja.
Negara – negara yang menggunakan sistem ekonomi ini adalah :
·         Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Korea Selatan, Inggris, Jerman dan sebagian besar negara eropa lainnya.
2.      Sistem Ekonomi Terpusat
Berbeda dengan sistem ekonomi liberal yang sangat memberikan kebebasan kepada swasta dan masyarakatnya dalam menjalankan kegiatan perekonomiannya, pada sistem perekonomian ini, pemerintah berlaku sangat dominan dalam menentukan kegiatan perekonomian, bahkan pemerintah jualah yang bebas menentukan dan memiliki sumber daya ekonomi sehingga ruang gerak dari masyarakat sangat – sangat terbatas dipada sistem ini.
Kebaikan dari sistem perekonomian terpusat adalah :
·         Jika terjadi krisis pemerintah dapat segera mengendalikan krisis dengan kebijakannya
·         Karena pemerintah yang menentukan kegiatan perekonomian maka pemerintah juga mudah mengawasinya dan mengendalikan perekonomian
Kelemahannya adalah :
·         Kreativitas masyarakat atau swasta tidak berkembang karena semua sudah ditentukan oleh pemerintah pusat
·         Pemerintah bisa saja melakukan monopoli dalam pelakasanaan perekonomian ini.

Negara penganut sistem ekonomi ini biasanya berideologi sosialis komunis seperti China, Rusia ataupun Kuba. Meskipun masing – masing sudah mulai meninggalkan sistem ekonomi ini.

3.      Sistem Ekonomi Campuran
Sistem ekonomi ini muncul oleh karena banyaknya kekurangan pada sistem ekonomi liberal dan juga terpusat. Sistem ekonomi campuran ialah sistem ekonomi yang memadukan kebaikan – kebaikan yang dimiliki oleh sistem ekonomi liberal dan terpusat serta berusaha meminimalisir kelemahan – kelemahan yang ada. Pada perekonomian campuran, kegiatan perekonomian dijalankan oleh masyarakat secara bebas , akan tetapi pada saat – saat tertentu pemerintah dapat memperlihatkan campur tangannya, seperti pada saat krisis, pemerintah dapat menentukan peraturan baru dan juga mengatur kebijakannya, baik kebijakan fiscal maupun moneter yang diperlukan saat itu.

Kebaikan sistem ekonomi campuran ialah :
·         Sumber daya ekonomi dapat ditentukan dan dimiliki oleh masyarakat dan swasta
·         Jika terjadi krisis perekonomian, pemerintah dapat mencampuri perekonomian agar keadaan kembali berjalan normal melalui kebijakan dan pereturen yang dibuatnya.
Kelemahannya adalah :
·         Adanya kesulitan dalam menentukan sektor ekonomi yang dapat dicampuri oleh pemerintah.

Negara yang menganut dan menjalankan sistem ekonomi campuran antara lain adalah :
·         Indonesia
·         Malaysia
·         Dan beberapa negara – negara berkembang lainnya



Sabtu, 18 Desember 2010

Kewiraswastaan/Entrepreneurship dan Perusahaan Kecil

         Entrepreneurship adalah seseorang yang mempunyai kreativitas suatu bisnis baru dalam menghadapi resiko dan ketidakpastian yang bertujuan untuk pencapaian laba dan pertumbuhan usaha berdasarkan identifikasi peluang dan mendayagunakan sumber-sumber serta memodali peluang tersebut
Setiap hari dalam kegiatan bisnis kita melakukan usaha/kegiatan Entrepreneurship untuk mendapatkan keuntungan tentunya. Banyak para ahli mengemukakan pendapatnya tentang kegiatan Entrepreneurship ini, dan salah satunya adalah dari Thomas W. Zimmerer, yang mengatakan bahwa Kewiraswastaan adalah penerapan kreativitas dan keinovasian untuk memecahkan permasalahan dan upaya memanfaatkan peluang – peluang yang dihadapi orang setiap hari.
Dari berbgai definisi yang ada mengenai kewiraswastaan, terdapat 3 tema penting yang dapat di identifikasi, yaitu:
1.    pursuit of opportunities , (entrepreneurship adalah berkenaan dengan mengejar kecenderungan dan perubahan-perubahan lingkungan yang orang lain tidak melihat dan memperhatikannya).
2.    innovation, (entrepreneurship mencakup perubahan perombakan, pergantian bentuk, dan memperkenalkan pendekatan-pendekatan baru…. Yaitu produk baru atau cara baru dalam melakukan bisnis).
3.    growth (Pasca entrepreneur mengejar pertumbuhan, mereka tidak puas dengan tetap kecil atau tetap dengan ukuran yang sama. Entrepreneur menginginkan bisnisnya tumbuh dan bekerja keras untuk meraih pertumbuhan sambil secara berkelanjutan mencari kecenderungan dan terus melakukan innovasi produk dan pendekatan baru .

Ciri-ciri entrepreneur :
*      mempunyai hasrat untuk selalu bertanggung jawab bisnis dan sosial
*      komitmen terhadap tugas
*      memilih resiko yang moderat
*      merahasiakan kemampuan untuk sukses
*      cepat melihat peluang




Ciri-ciri Penting Tahap Permulaan dan Pertumbuhan Kewiraswastaan
§  Proses pertumbuhan kewiraswastaan memiliki 3 tahap:
            1. Tahap imitasi dan duplikasi (imitating             and duplicating)
            2. Tahap duplikasi dan pengembangan             (duplicating and developing)
            3. Tahap menciptakan sendiri barang dan jasa            baru yang berbeda (creating new and     different)


Faktor Penyebab Keberhasilan dan Kegagalan Wiraswasta
§  Keberhasilan Kewiraswastaan ditentukan oleh faktor:
            1. Kemampuan dan Kemauan
            2. Tekad yang kuat dan kerja keras
            3. Kesempatan dan peluang

Kegagalan dan keberhasilan Wiraswasta ditentukan oleh:
1.    Kelemahan
2.    Peluang
3.    Kemampuan
4.    Pengalaman

Keuntungan Wiraswasta
1.    Otonomi. Pengelolaan yang bebas dan tidak terikat membuat wiraswasta menjadi seorang “bos” yang penuh kepuasan
2.    Tantangan awal dan perasaan motif berprestasi. Tantangan awal atau bermotivasi tinggi merupakan hal menggembirakan. Peluang untuk mengembangkan konsep usaha yang dapat menghasilkan keuntungan sangat memotivasi wiraswasta.
3.    Kontrol finansial. Bebas dalam mengelola keuntungan dan merasa kekayaan sebagai milik sendiri.

Kerugian Kewiraswastaan
1.    Pengorbanan personal. Pada awalnya wiraswasta harus bekerja dengan waktu yang lama dan sibuk. Sedikit sekali waktu untuk kepentingan keluarga, rekreasi. Hampir semua waktu dihabiskan untuk kegiatan bisnis.
2.    Beban tanggung jawab. Wiraswasta harus mengelola semua fungsi bisnis, baik pemasaran, keuangan, personil maupun pengadaan dan pelatihan.
3.    Kecilnya margin keuntungan dan kemungkinan gagal. Karena wiraswasta menggunakan keuangan yang kecil dan keuangan milik sendiri, maka margin laba/keuntungan yang diperoleh akan relatif kecil dan kemungkinan gagal juga ada.



Ciri-ciri perusahaan kecil :
*      manajemen berdiri sendiri
*      modal disediakan oleh seorang pemilik atau sekelompok kecil
*      daerah operasinya lokal
*      ukuran dalam keseluruhan relatif kecil

Kekuatan perusahaan kecil :
*      kebebasan untuk bertindak
*       menyesuaikan kepada kebutuhan setempat
*      peran serta dalam melakukan usaha/tindakan

Kekurangan perusahaan kecil :
*      relatif lemah dalam spesialisasi
*      modal dalam pengembangan terbatas
*      karyawan relatif sulit untuk mendapat yang cakap

Sebab-sebab kegagalan :
*      struktur modal yang tidak memadai
*      penggunaan metoda dan peralatan yang sudah usang
*      tidak adanya perencanaan jangka panjang
kecakapan pribadi

            Kadang orang selalu menyamakan antara kewirausahaan dengan bisnis kecil. Pandangan yang menyamakan pengertian kewirausahaan dengan bisnis kecil dapat di maklumi karena memang kewirausahaan dengan bisnis kecil hampir sama karena memang keduanya sama-sama bergerak dalam membuka usaha. Namun di antara keduanya terdapat perbedaan. Kewirausahaan adalah keberanian seseorang mengambil risiko dengan menyatukan berbagai fungsi, produksi, termasuk bahan baku, modal, tenaga kerja dan menerima imbalan dalam bentuk laba dari nilai pasar yang di hasilkan. Sedangkan bisnis kecil adalah kegiatan usaha kecil yang sifatnya mencari keuntungan biasanya usaha ini di lakukan melalui kegiatan usaha rumahan.